FOCUS: April 2006

Thursday, April 06, 2006

Aqidah Ahlul Sunnah Perihal Turunnya Nabi Isa

Akan tetap ada org yang berjuang di jalan Allah di akhir zaman sehingga diturunkan oleh Allah nabi Isa a.s.Mereka berjuang di dalam semua aspek,dari mengucap kalimah syahadah sehinggalah dalam aspek pemerintahan.Bknlah dari kalangan mereka yang hanya ingin menegakkan negara islam tanpa menjalankan amal ma'ruf nahi munkar.Bknlah juga dari kalangan mereka yang hanya mementingkan soal ibadah tanpa memikirkan soal menegakkan negara islam.Kita manusia ada kehendak,diberi pilihan dan ikhtiar.Berdoalah semoga kita di dalam golongan itu

oleh ustaz emran...

Diangkatnya Nabi Isa a.s dan akan turunnya beliau di akhir zaman merupakan aqidah para sahabat, para tabi’in, para ulama serta para imam Ahlus Sunnah sepanjang zaman.

Ibnu Katsir berkata: “Telah mutawatir hadits-hadits dari Rasulullah s.a.w bahwa Nabi Isa a.s akan turun sebelum hari kiamat sebagai imam yang adil dan hakim yang bijaksana (Tafsir Ibnu Katsier, juz 7 hal. 223).

Berkata Shiddiq Hasan Khan: “Hadits-hadits tentang turunnya Isa a.s sangat banyak. Telah disebutkan oleh Imam Asy-Syaukani, di antaranya ada 29 hadits antara sahih, hasan dan hadith lemah yang terdukung. Di antaranya ada yang disebut bersama kisah Dajjal, ada pula yang disebut bersama hadits-hadits tentang Imam Mahdi, ditambah lagi atsar-atsar yang diriwayatkan oleh para shahabat yang tentunya memiliki hukum marfu’ (sampai kepada Rasulullah s.a.w), karena perkara Dajjal bukanlah masalah ijtihad”. Kemudian beliau menyebutkan semua hadits tentang Dajjal. Setelah itu beliau berkata: “Seluruh apa yang kami nukilkan ini telah mencapai derajat mutawatir sebagaimana dipahami oleh orang-orang yang memiliki ilmu” (Al-Idza’ah, hal. 160, melalui nukilan Yusuf al-Waabil dalam Asyratu as-Sa’ah)

Telah ditulis oleh para ulama hadits tentang Isa a.s, ternyata didapati dari 25 para sahabat dinukil dari mereka oleh 30 tabien dan dinukil dari tabi’in oleh atba’ut tabi’in lebih banyak lagi. Berkata Abu Thayyib Muhammad Syamsul Haq al‘Adhim Abadiy: “Telah mutawatir berita-berita dari Nabi s.a.w tentang turunnya Isa a.s dari langit dengan jasadnya ke bumi ketika telah dekat hari kiamat. Ini merupakan mazhab ahlus sunnah. (Aunul Ma’bud, 11/457).

Berkata Syaikh Ahmad Syakir : “Turunnya Isa a.s di akhir zaman adalah perkara yang tidak diperselisihkan sedikit pun oleh kaum muslimin, kerana tersebutnya berita-berita yang shahih dari Nabi s.a.w tentangnya. Ini perkara yang sudah dimaklumi dalam agama secara aksiomatis, dan tidak beriman orang yang mengingkarinya. (Footnote Tafsir ath-Thabari dengan tahqiq Mahmud Syakir, cet. Daarul Ma’arif, Mesir, juz 6 hal. 460).

Berkata Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani : “Ketahuilah bahwa hadits-hadits tentang Dajjal, dan turunnya Isa a.s adalah berita-berita yang mutawatir, maka kita wajib beriman dengannya. Jangan tertipu dengan orang-orang yang menyatakan hadits-hadits tersebut adalah hadits ahad, karena mereka adalah orang-orang yang bodoh tentang ilmu ini. Tidak ada di antara mereka yang menelusuri dan meneliti hadits-hadits tersebut dengan jalan-jalannya. Kalau saja ada yang mahu menelitinya, nescaya dia akan mendapati hadits-hadits tentang ini mutawatir, sebagaimana telah dipersaksikan oleh para ulama seperti Ibnu Hajar dan lain-lainnya.

Sungguh sangat disayangkan munculnya orang-orang yang lancang, terlalu berani berbicara pada perkara-perkara yang bukan pada bidangnya. Apalagi urusannya adalah urusan aqidah dan agama. (Takhrij Syaikh al-Albani terhadap Syarh Aqidah ath-Thahawiyah oleh Ibnu Abil Izzi al-Hanafi, hal. 501)

Para ulama memasukkan masalah turunnya Isa a.s dalam kitab-kitab aqidah dan prinsip-prinsip sunnah yang mereka susun seperti Abu Ja’far ath-Thahawi dalam Aqidah ath-Thahawiyah, Abu Bakar Muhammad bin Husein al-Aajurri dalam asy-Syari’ah dan Imam Ahmad dalam ushuulus Sunnahnya.

Berkata Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wad’iy (ahlul hadits dari negeri Yaman): “Hadits-hadits tentang turunnya Isa a.s dan keluarnya Dajjal menurut para ulama adalah mutawatir.(Ruduud Ahlul Ilmi, Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wad’i, hal. 25)

Berkata Qadli ‘Iyad : “Turunnya Isa a.s dan dibunuhnya Dajjal olehnya adalah haq dan sahih menurut para ulama ahlus sunnah, karena hadits-hadits yang sahih dalam masalah ini. Dan tidak ada sesuatu pun yang dapat diengkari dalam syari’at maupun dalam akal yang sihat. Maka Wajib menetapkannya. (Lihat Syarh Shahih Muslim oleh Imam Nawawi, jilid 18, hal. 75)


Bantahan terhadap para pengingkar Turunnya Nabi Isa as dengan alasan bahawa Rasulullah s.a.w adalah penutup para nabi.

Berkata Imam Nawawi: “Perkara ini telah diingkari oleh sebagian mu’tazilah, aliran Jahmiyah dan orang-orang yang mencocoki mereka dengan menganggap bahwa hadits-hadits ini tertolak dengan ayat Allah :

"Dan dia adalah penutup para nabi" (al-Ahzaab: 40.)

Dan dengan ucapan Nabi s.a.w:

Tidak ada nabi setelahku. (HR. Muslim)

Dan dengan ijma’ kaum muslimin bahawa tidak ada nabi setelah nabi kita Muhammad
s.a.w. Dan bahwasanya syariat Islam ini kekal sampai hari kiamat dan tidak dimansuhkan (tidak dibatalkan).

Ini adalah hujah yang tidak tepat dan yang rosak, karena tidaklah yang dimaksud dengan turunnya Isa a.s adalah turun sebagai Rasul yang membawa syariat yang baru, yang membatalkan syariat kita. Tidak ada dalam hadits-hadits ini mahupun yang lainnya dalil yang menunjukkan hal tersebut. Bahkan telah shahih hadits-hadits tersebut dan dalam Kitabul Iman dan lain-lainnya bahawa Nabi Isa a.s turun sebagai hakim yang adil dengan hukum syariat kita. Dan menghidupkan perkara-perkara syariat-syariat kita yang sudah mulai ditinggalkan oleh manusia. (Syarh Shahih Muslim, Imam Nawawi, juz 18, hal. 278)

Imam adz-Dzahabi memasukkan Isa a.s dalam kitabnya Tajridu As-mai ash-Shahabah (tentang nama-nama shahabat Nabi s.a.w), kemudian beliau berkata: “Isa a.s adalah seorang sahabat dan sekaligus seorang nabi. Karena dia sempat bertemu dan melihat Nabi s.a.w pada malam Isra’ dan Mi’raj. Maka beliau adalah sahabat Rasulullah s.a.w yang paling terakhir wafatnya. (Tajridu Asmai ash-Shahabah Hal. 432; melalui nukilan Yusuf al-Waabil dalam Asyrathu as-Sa’ah, hal. 356)

Berkata Imam al-Qurthubi: “Suatu kaum berpendapat bahwa dengan turunnya Isa a.s berarti akan terangkat beban syariat (nabi Muhammad s.a.w –pen.), kerana Isa a.s turun sebagai Rasul yang terakhir di zaman tersebut, memerintahkan mereka dengan wahyu dari Allah. maka tentunya yang ini adalah batil dan tertolak karena Allah ى menyatakan bahwa Rasulullah adalah penutup para nabi (dalam Q.S. al-Ahzaab ayat 40). Dan juga terbantah dengan hadits: “Tidak ada nabi setelahku” (Shahih Muslim) dan hadits: “Saya adalah penutup” (Shahih Bukhari). Yang dimaksud adalah beliau adalah nabi terakhir dan penutupnya".

Oleh karena itu jangan dianggap bahwa Isa turun sebagai rasul dengan syariat yang baru selain syariat Rasulullah s.a.w. Bahkan beliau turun sebagai pengikut Nabi Muhammad s.a.w sebagaimana dikabarkan dalam hadits, ketika Rasulullah s.a.w bersabda kepada Umar :

Jika saja Isa masih hidup, niscaya tidak ada pilihan lain baginya kecuali mengikutiku.

Maka turunnya Isa a.s dalam keadaan telah mengetahui perintah Allah sejak di langit sebelum turunnya. Yaitu mengetahui ilmu syariat ini untuk menghukumi di antara manusia dan beramal bagi dirinya. Maka berkumpullah orang-orang beriman mengikutinya dan dia menghukumi mereka dengan syariat Islam. (at-Tadzkirah, hal. 67-68, melalui nukilan Yusuf al-Waabil dalam Asyrathu as-Sa’ah, hal. 360-361).

Bantahan bagi para pengengkar dengan alasan ayat Allah dalam surat Ali Imran ayat 55: Inni Mutawaffiika

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : “Adapun ucapan Allah yang menyatakan:

Ketika Allah berfirman kepada Isa: “Aku me”’wafat”kanmu dan mengangkatmu kepada-Ku serta mensucikanmu dari orang-orang kafir…(Ali Imran: 55)

bukanlah berarti mematikan Isa a.s , kerana kalau yang dimaksudkan adalah kematian, maka berarti Isa sama dengan orang-orang mukmin lainnya, yakni dicabutnya ruh mereka dan dibawanya ke langit. Hal ini berarti Nabi Isa tidak memiliki keistimewaan apapun. Demikian pula ucapan Allah “wa muthahiruka minaladziina kafaru”, kalau ruhnya terpisah dari jasadnya berarti jasadnya tetap di bumi seperti badannya para nabi yang lain…. (Majmu’ Fatawa, juz IV hal. 322-323)

Berarti jasadnya tetap disalib dan dihinakan oleh orang-orang kafir, yang tentunya bererti tidak disucikan dari orang-orang kafir dan ini adalah mustahil. Kerana Allah dalam ayat di atas menyatakan “Dan Aku mensucikanmu dari orang-orang kafir”.

Bahkan kalimat wafat dalam bahasa Arab memiliki beberapa makna, kerana diambil dari kata-kata qaabiduka yang bermakna menggenggam atau mengambil. Maka bisa bermakna mengambil ruh dan jasadnya (seperti Isa a.s), atau mengambil ruh tanpa jasadnya (yaitu kematian) atau mengambil kesadarannya dalam keadaan ruh dan jasadnya masih di tempatnya (yakni ketika tidur) sebagaimana Allah pergunakan kalimat wafat dalam ayat-ayat berikut:


Allah memegang jiwa (orang) ketika m atinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya …(az-Zu-mar: 42)


... Dan Dialah yang “menidurkan”mu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari… (al-An’aam: 60)

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah selanjutnya: “…Oleh karena itu berkata para ulama bahwa makna mutawaffiika adalah qaabidluka (mengambil kamu), yakni mengambil ruh dan jasadmu. Tidak mesti lafadz tuwaffa bermakna mengambil ruh saja tanpa jasad. Tidak mesti pula jasad dengan ruh bersama-sama. Keduanya harus dipahami sesuai dengan konteks kalimatnya. (Majmu’ Fatawa, juz IV hal. 323)

Kita katakan: bahwa konteks kalimat dalam ayat tentang Isa a.s di atas sangat jelas. Karena Allah menyebut seiring dengan kalimat wafat kalimat raafi’uka yang bermakna mengangkatmu.

Ibnu Jarir ath-Thabari menafsirkan makna wafat dalam ayat di atas sebagai berikut: “Yang lebih utama dari pendapat-pendapat ini untuk dikatakan shahih menurut kami adalah ucapan yang berkata bahwa makna mutawaffiika adalah “Aku memegangmu dan mengangkatmu (ruh dan jasadnya) kepada-Ku”, karena mutawatirnya hadits-hadits dari Rasulullah s.a.w yang memberitakan bahwa Isa akan turun dan membunuh Dajjal. (Tafsir ath-Thabari, juz 3, hal. 291)

........................ (Dikutip dari bulletin Manhaj Salaf, Edisi 71/Th. II tgl 15 Jumadi tsani 1426 H/22 J u l i 2005 M, judul asli Aqidah Para Ulama tentang turunnya Nabi Isa 'alaihissalam, penulis asli Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed).

p/s : Ustaz emran meminta maaf tidak dapat menulis apa-apa artikel terkini kerana USB drive beliau hilang dan tidak dapat memindahkan banyak tulisan-tulisan beliau dari komputer beliau kepada web ini tetapi insyaAllah akan diganti yang baru dalam proses.

Monday, April 03, 2006

This international terrorism , we keep hearing about - We reject all these forms of terrorism

lihat video>>>http://switch3.castup.net/cunet/gm.asp?ai=214&ar=1093wmv&ak=null

Sheik Yousuf Al-Qaradhawi: This international terrorism, we keep hearing about, which is led by America - we reject all these forms of terrorism. We accept only Jihad and resistance to restore the rights, the lands, and the holy places.

Some people call this terrorism. America, its allies, and its satellites want to present any type of resistance as terrorism. Our brothers in Palestine are the first among these "terrorists." They are defending their land, their honor, and their holy places, so how can they be terrorists? Divine laws, international laws, moral values, and even the laws of nature itself...

According to Allah's creation, when a foreign object enters the human body, Allah mobilizes a special army inside the body to expel these foreign objects. This is the nature of Allah's creation. So how can they be considered terrorists?

Sharon and his criminal gang are not considered terrorists, and [the Americans] display understanding to their positions, saying that they are defending themselves, while the Palestinian positions are not understood. They are the ones who are considered terrorists, and whoever supports them, defends them, or stands by them is considered a terrorist just like them.

I am a terrorist, and so are Dr. 'Amara, Sheik Kubeisi, and Dr. Al-Bashir. We are all terrorists, because we say they have a right to self defense, and because we permit these martyrdom-seeking operations, and call them "martyrdom-seeking" operations, and reject those who call them suicide operations, because they are anything but suicide. They have the right to defend themselves.

At times, a woman or child may be hurt. First of all, in Israeli society, even women are recruited to the army. Israeli society is militaristic to the core. Men and women are recruited, either to the regular army or as reservists. If children are hurt, they are hurt unintentionally. These are necessities of war.

Message to all muslims,christians and jewish.

Beliau bercerita tentang ketidakadilan di Palestin.Ambang kejatuhan Amerika,sekaligus Israel.Janji Allah Islam akan kembali menang.

Zaghloul Al-Naggar: The 20th century crime is the creation of this false state amidst the Arab world and amidst the Muslim world, with no justification whatsoever - historical, ethnic, religious, you name it. They have no justification to be in that region at all. And that's why Muslims have to struggle hard to destroy this state, regardless of the blind support of the Americans and of many European nations to it, stemming from wrong misconceptions and wrong beliefs that have been mainly infiltrated by the Jewish hand.

I have with me here ten quotations from ten American presidents, past and present, that claim to be the sole supporters of the State of Israel, regardless of any morality, regardless of any consciousness, regardless of any religious bindings, regardless of any human feelings.

The Jews in the region have been a destructive force. They have been killing, shooting, and looting every day. They have been demolishing mosques, hospitals, schools, churches every day. They have been destroying cultivated land, destroying homes on its inhabitants, under the strong assumption that they were given this land by a false promise.

It's high time for people of the world to look into this issue critically, not just blindfolded, like what the Americans are doing.

I have with me here Bill Clinton, who's supposed to be a more rational leader of America, despite his grievous sins. He says: "America and Israel share a special bond." I don't know what's that bond, where it came from.

"Our relationship is unique among all nations." On what basis, on what foundations?

"Like America, Israel is a strong democracy." Democracy that has killed during the last few months more than 3,000 civilian Palestinians, have demolished hundreds of homes, have decultivated thousands of acres of land, establishing a wall eight meters high to divide the land of Palestine into many separate entities. This is the democracy which Bill Clinton is acclaiming.

"As a symbol of freedom." I don't know what kind of freedom. They have thousands of innocent civilians in bondage. "A symbol of freedom, and an oasis of liberty." What liberty he says. I don't know.

"A home to the oppressed and persecuted" - and actually, the home of oppression and persecution.

This is just a simple quotation, I have tens of these quotations. But I would like to emphasize here, that if we go with distorted beliefs, if we go with misconceptions, if we go with wrong assumptions, like the assumption that the Jews are the chosen people of God, they can do whatever they like, every act they do is well justified, I think this world can never live in peace.

And I declare here, that this false state has to be demolished, sooner or later. America will not remain the sole world power forever. Time will come when this superpower will be dissipated to nothing. And the signs for this dissipation is quite obvious, I can see it quite clearly. And at that time the oppressors in Palestine would not find these tens of presidents of the United States to stand at their back, supporting them illegally, supporting them unethically, supporting them immorally, to do more killing, more raping, more destruction in the land of peace.

[...]

We come to tell our Christian friends in the world and to the Jews all over the world, that the misconception that a certain group of people have to be favored upon the rest of humanity just because they belong to a particular race is not a divine decree. This is a falsehood that has been infiltrated in the ancient revelation to Moses, peace be upon him, and in the ancient revelations of Jesus Christ, peace be upon him.

And it's high time for people of wisdom, people of rationalism, people of intelligence, of reason to look into these misconceptions and eradicate it completely from books that are supposed to be books of religion, books that invite Man to more morality, more sense of brotherhood and sisterhood, more sense of bowing in obedience to the Creator. And we tell them that the Holy Koran is the only word of the Divine Being, who has been kept preserved for more than 14 centuries in its divine purity and in its divine language.

If they want to know the judgment about the existence of a Jewish state in the middle of the Muslim world, they have to refer to the Holy Koran and to the traditions of Muhammad, peace be upon him, being the only source of enlightenment and the only source of truth within the hands of humanity today.

Saturday, April 01, 2006

Kematian & Peringatan Untuk Kita Semua



oleh ustaz emran,

Membicarakan perihal kematian akan membuatkan kita terdiam sejenak, kelu dan hilang kata-kata sewaktu rancak berbicara.

Sesiapa sahaja yang sedang asyik ketawa dan berbicara tentang perihal dunia maka pastinya akan terdiam atau sekurangnya merasa kurang enak apabila kita berbicara tentang kematian.


Kematian

"(Dialah) yang menjadikan mati dan hidup, agar Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun". (Al-Mulk: 2).

Cubalah berbicara tentang meninggal dunia, mengingati orang-orang sekeliling kita yang telah pergi mengadap Allah, jasad yang kaku, hilang segala-galanya hubungan dengan kehidupan.

Fikirkan pula tentang kubur, ruangan yang kecil, perlahan-lahan jasad diturunkan ke dalam lubang lalu ditimbus.

Gelap gelita, sempit sehingga sesak nafas, apa masih bernafaskah ? Ruangan yang gelap dan kehidupan yang tidak pasti apa akan berlaku seterusnya di hadapan. Kehidupan lalu di dunia semuanya terputus dan hilang tanpa ada upaya kembali walau sesaat untuk menguruskan apa yang belum sempat.

Tiada masa dan tidak akan ada peluang untuk membetulkan kembali kesalahan lalu, apakah masih berpeluang merangkak keluar dari kubur dengan jasad yang sudah tiada nyawa, tiada darah mengalir, badan yang sejuk kaku dan lama-lama membusuk ?

Masih berpeluangkah merangkak keluar dan kembali ke dunia dan kembali ke sisi keluarga untuk mengucup pipi ibu dan ayah bagi melepas rindu ? atau memeluk isteri barang sekali dua melepas rasa dendam kasih atau mencium anak-anak dan mengusap wajah dan kepala mereka sekejap cuma ?

Punyai waktu lagikah untuk menguruskan beberapa kerja yang tertangguh yang belum sempat disiapkan disebabkan datangnya malaikat mencabut nyawa dengan begitu cepat tanpa sempat membuat persediaan dan tanpa pemberitahuan ?

"Tiap-tiap umat memiliki ajal (batas waktu); maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak akan dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat pula mempercepatkannya". (al-A’raaf: 34).

Kematian datang secara tiba-tiba dan tiada sesiapa dari kalangan manusia yang tidak terkejut dengan mati kecuali orang yang benar-benar beriman dan berjuang di jalan Allah yang mengharapkan kematian kerana Allah swt.

Kematian boleh berlaku dengan kemalangan, kecederaan atau sakit atau kadang-kadang tergempar dan tiba-tiba begitu sahaja. Maka hendaklah difahami bahawa tujuan hidup ini ialah beribadah dan melaksanakan satu misi khusus iaitu menjadi hamba dan beribadah kepada Allah swt sehingga mendapat redha-Nya dan memenuhi tanggungjawab kepada-Nya.

"Apakah manusia mengira, bahwa dia akan dibiarkan sia-sia?" (al-Qiyamah: 36)Berkata Imam Syafi’i (ketika menafsirkan ayat ini): “Makna sia-sia adalah tanpa ada perintah, tanpa ada larangan.” (Tafsirul Quranul Karim, Ibnu Katsir, jilid 4, cet. Maktabah Darus Salam, 1413 H hal. 478) .

Ayat ini sudah dijawab oleh Allah swt dengan ayat yang lain apabila Allah menyebut : "Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku." (adz-Dzariyat: 56).

Penciptaan manusia ini sememangnya untuk beribadah dan menjalankan kewajipan kepada Allah swt tanpa mempedulikan apa pandangan manusia dan penghinaan yang diterima.

Seseorang yang akan mati maka tetap akan mati tetapi hendaklah berusaha mencapai kematian yang baik. Bagaimanakah kematian yang baik ? Apakah mati di atas tilam dalam pelukan isteri ? Mati di Mekah di dalam Ka'bah atau mati di dalam Masjid ? atau Mati di dalam loji najis atau mati di dalam Kereta kerana kemalangan atau di atas katil kerana sakit atau di atas jalan kerana ditembak oleh musuh Allah ??

Kematian yang baik ialah apa yang disebutkan oleh Allah swt di dalam kitab-Nya : "Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah kalian mati melainkan kalian mati dalam keadaan Islam". (Ali Imran: 102).

Selama kematian itu dalam Islam dan kerana Islam maka tidakah mengapa keadaan mati itu kerana bukan cara mati itu baik digantung, ditembak, dibunuh, kemalangan itu yang menjadi perkiraan sebaliknya keadaan diri dan iman dan agama kita sewaktu mati itu yang menjadi nilaian Allah swt.